THE LEGEND -SLIDE

The Legend

The Legend

September 06, 2009

THE LEGEND IV - WHO AM I ???

Saya akan mencoba untuk mengungkapkan misteri perihal silsilah saya sendiri yang mungkin suatu saat dapat berguna di dalam meneruskan sekaligus mempertahankan apa yang telah diwariskan oleh pendahulu saya kepada generasi berikut nya.Untuk mempersingkat penulisan silsilah ini  saya menggunakan metode penulisan silsilah Batak secara umum, ada baik nya juga kita  melihat apa yang telah saya tulis dalam (THE LEGEND I).


Raja Batak

1.Guru Tatea Bulan (Raja Ilontungan)@
2.Raja Sumba (Raja Isombaon)

GURU TATEA BULAN (Ilontungan)
Tatea Bulan artinya "Tertayang Bulan"

Raja Sumba ( Isombaon) artinya raja yang disembah. Isombaon kata dasarnya somba (sembah). Semua keturunan Si Raja Batak dapat dibagi atas 2 golongan besar:

1. Golongan Tatea Bulan = Keluarga Bulan = Golongan (Pemberi boru)  Disebut juga golongan Hula-hula = Golongan Ilontungan.
2. Golongan Isombaon = Keluarga Matahari = Golongan Anak. Disebut juga Golongan Parboru = Golongan Sumba.

Kedua golongan tersebut dilambangkan dalam bendera Batak (bendera Si Singamangaraja), para orang tua menyebut( Mangaraja, artinya Maha Raja), dengan gambar matahari dan bulan. Jadi, gambar matahari dan bulan dalam bendera tersebut melambangkan seluruh keturunan Si Raja Batak.

Guru Tatea Bulan (Ilontungan)

1.1   Raja Uti
1.2   Tuan Saribu Raja@
1.3   Limbong Mulana
1.4   Sagala Raja
1.5   Silau Raja
1.6   Si Boru Pareme
1.7   Si Boru Anting Sabungan
1.8   Si Boru Biding Laut
1.9   Si Boru Sanggul Haomason
1.10 Si Boru Nan Tinjo (tidak menikah).

Raja Uti
Raja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng).. Raja Uti terkenal sakti dan serba bisa. Satu kesempatan berada berbaur dengan laki-laki, pada kesempatan lain membaur dengan peremuan, orang tua atau anak-anak. Beliau memiliki ilmu yang cukup tinggi, namun secara fisik tidak sempurna. Karena itu, secara kemanusiaan Beliau mendapatkan (amanat dari Ompu Mula Jadi Nabolon) sebagai penerus untuk menjalankan roda Kerajaan pada masa itu.(Raja Uti) berkuasa di antara dinasti terakhir masa nya (Dinasti Sori Mangaraja) dengan dinasti yang baru (Singa Mangaraja) dan beliau mendapatkan amanat juga untuk menobatkan serta menyerahkan harta pusaka Kerajaan Batak kepada Raja yang baru (dinasti Singa Mangaraja) kelak jika Raja tersebut hadir di hadapan nya dan sesuai dengan wangsit yang diterima oleh Raja Uti dari Ompu Mula Jadi Nabolon. bahwa tiba saat nya keponakannya (bere) Raja Manguntal Sinambela yang sesuai dengan wangsit tersebut untuk dinobatkan menjadi Raja (meneruskan dinasti Sori Mangaraja dengan dinasti baru) yakni Dinasti Singa Mangaraja, namun dalam kekuatan spiritual tetap berpusat pada Raja Uti. Adapun dinasti Sori Mangaraja bertahta selama 90 generasi di tanah Batak (berdasarkan turi-turian Batak).

Tuan Sariburaja
Sariburaja adalah nama putera kedua dari Guru Tatea Bulan. Dia dan adik kandungnya perempuan yang bernama Si Boru Pareme dilahirkan marporhas (anak kembar berlainan jenis, satu peremuan satunya lagi laki-laki).Dalam suatu kesempatan ke dua kakak beradik ini saling jatuh cinta, sehingga mereka melakukan hal yang melanggar adat di masa itu (incest) yang melahirkan putera bernama
Raja Lontung (1).
Setelah perbuatan melanggar adat itu diketahui oleh saudara-saudara nya (Limbong, Sagala Raja dan Silau Raja) maka ketiga saudara nya tersebut sepakat untuk membunuh keduanya. Kesepakatan ini pada akhir nya di bocorkan oleh Silau Raja pada suatu kesempatan, sehingga mereka berdua melarikan diri.( Sebelum mereka berdua melaksanakan niat nya Sariburaja memberikan sebuah cincin yang kelak di pasangkan ke jari anak nya jika sudah dewasa sebagai tanda).Agar mereka dapat lolos dari pengejaran maka Sariburaja dan Boru Pareme memisahkan diri (berpencar ) dalam pelariannya, dengan memberi suatu tanda berupa kepulan asap, jika sudah keluar dari perkampungan tersebut.(tapi sampai saat anak mereka lahir mereka berdua tidak pernah lagi bertemu). Boru Pareme dalam pelariannya sempat bertemu dengan Harimau di tengah-tengah hutan yang lebat. Harimau tersebut ketika di hampiri Boru Pareme sedang mengalami kesakitan akibat dari memangsa korbannya yakni seekor babi hutan, gigi Harimau tersebut tersangkut oleh tulang babi hutan yang habis di mangsa nya. Dengan ketulusan hati nya Boru Pareme menolong Harimau tersebut agar terlepas dari masalah nya tersebut. Sejak saat itulah Sang Harimau mengadakan perjanjian dengan Boru Pareme bahwa antara Harimau dengan keturunan Boru Pareme tidak akan saling membunuh dan akan saling membantu. Harimau tersebut bagi keturunan Raja Lontung di kenal dengan nama (Babiat Sitelpang). Boru Pareme selalu di temani oleh Harimau tersebut. Kelak dikemudian hari Harimau ini pula yang membantu persalinan si Boru Pareme, dan menjadi sahabat karib anak nya. Harimau ini pula yang banyak mengajarkan pengetahuan dan keterampilan ke pada Raja Lontung.

Dalam pelariannya Sariburaja bertemu dengan seseorang di tengah hutan yang lebat,(kabar nya Sombaon). Mempunyai seorang puteri yang bernama Nai Mangiring Laut. Sariburaja jatuh hati terhadap puteri tersebut sehingga mereka pun menikah dan puteri tersebut melahirkan seorang putera yang di beri nama Raja Borbor (2). Sebelum Raja Borbor lahir Sariburaja menyatakan niat nya untuk berkelana mencari abang nya Raja Uti ke Barus. Sehingga menitipkan sebuah cincin dan memberikan nya ke pada Nai Mangiring Laut, yang kelak jika si anak telah dewasa di pasangkan ke jemari nya sebagai tanda.

Sariburaja di dalam pengembaraan nya juga menikahi kembali seorang puteri yang juga memberi nya seorang putera yang diberi nama Si Raja Babiat (3). Di kemudian hari Si raja babiat mempunyai banyak keturunan di daerah Mandailing. Mereka bermarga Bayoangin.(Versi lain mengatakan Sariburaja mengawini seekor Harimau di dalam pengembaraannya)
Karena selalu dikejar-kejar dan diintai oleh saudara-saudaranya, Sariburaja selalu berkelana. Banyak daerah yang telah Dia singgahi.. ( menurut turi-turian Batak )

2.Tuan Sariburaja

2.1 Raja Lontung@
2.2 Raja Borbor
2.3 Raja Babiat

Raja Lontung
SI RAJA LONTUNG. Menikah dengan Sang Ibu. Hal ini adalah tipu muslihat sang Ibu ( Boru Pareme) agar putera nya si Raja Lontung tidak dapat mengunjungi paman nya (tulang) untuk menikahi salah satu puteri dari tulang nya tersebut (dalam konteks adat Batak memang sangat bagus/dianjurkan seorang putra Batak menikahi puteri Pamannya) Boru Pareme masih takut jika saudara laki-lakinya (tulang si Raja Lontung) masih marah akibat peristiwa belasan tahun lalu (incest) yang membuat malu kewibawaan Raja Batak masa itu yang terkenal dengan hukum dan adat nya di seluruh penjuru dunia. (Masa mereka adalah masa akhir dari dinasti Sori Mangaraja versi .......?)

Raja Lontung Mempunyai 7 orang putra dan 1 orang putri

Karena semua putera dan puteri dari Si Raja Lontung berjumlah 8 orang, maka mereka sering di juluki dengan nama Lontung Si Sia Marina, Pasia Boruna Simamora,Sihombing.
Si Sia Marina = SembilanManusia Terlahir dari Rahim Satu Ibu yang berarti : Boru Pareme melahirkan 8 putera dan 1 puteri (Raja Lontung+((anak-anak Raja Lontung 7)) + boru nya 1)

Putri Raja Lontung pertama menikahi Toga Simamora (Boru Panggabean) yang melahirkan tiga putra. Sebelum putra-putra nya dewasa Toga Simamora memutuskan untuk berkelana. Sampai lah dalam pengembaraannya tersebut Toga Simamora bertemu dengan se orang puteri Raja Setempat di daerah Pakkat. Raja tersebut bernama Raja Alang Pardosi. Ternyata mereka saling jatuh hati dan memutuskan untuk menikah meskipun Toga Simamora telah berterus terang bahwa dia telah mempunyai isteri dan berputera tiga orang. Belakangan lahir lah juga seorang putera dari hasil pernikahan nya tersebut di daerah Pakkat yang di beri nama
Tuan Sumerham juga di sebut Toga Rambe.
Setelah sekian lama tidak ada kabar berita dari pengembaraan nya tersebut Si Boru Panggabean sangat lah bersedih hati karena tidak mengetahui apakah suami nya itu masih hidup atau telah meninggal.Karena melihat kesedihan kakak ipar nya tersebut (Angkang Boru) maka Toga Sihombing berusaha menghibur nya, lama kelamaan saling jatuh hati llah mereka sehungga memutuskan untuk menikah, dengan perjanjian untuk menukar nama nya menjadi Boru Amakpandan agar tidak terjadi di kemudian hari hal-hal yang tidak diinginkan oleh anak-anak mereka kelak,(Mungkin di masa Itu Ayah mereka Toga Simamora dan Toga Sihombing yaitu Raja Sumba II dan Ayah dari Boru Panggabean Raja Lontung masih hidup dan merestui akibat dari situasi ini)

2.1 Raja Lontung
 
2.1.1 Sinaga Raja
2.1.2 Tuan Situmorang
2.1.3 Raja Pandiangan br Sagala...?@
2.1.4 Raja Nainggolan
2.1.5 Raja Simatupang
2.1.6 RajaAritonang
2.1.7 Siregar

2.1.3.1 (1) Datu Ronggur (Guru Mombang Pillian)@
                                                                                                
1.1 Raja Bunga-bunga (Sarang Banua) (Sebayang)

1.2 Soliin
1.3 Guru Solandason@

3.1a Guru Pinayungan@

1a.1b Parhutala br Simbolon...?@

Parhutala
Parhutala bermukim di wilayah Pandiangan Sirait (Palipi) yang secara turun temurun merupakan tanah warisan dari nenek moyangnya Raja Pandiangan. Di masanya Parhutala adalah orang yang sangat disegani dan kaya raya. Parhutala menikah dengan boru Simbolon (menurut sumber...?) dan dikaruniai dua putra serta tiga
putri. Ketiga putrinya konon berparas cantik jelita, sehingga ketika beranjak dewasa ketiga putrinya ini banyak pemuda yang mengagumi dan jatuh hati dengan mereka. Namun ketiga putrinya ini berprilaku aneh di masa itu. Pada siang harinya mereka hanya pergi ke mual (tempat permandian para putri raja) untuk berdandan merias diri, kemudian malam harinya hanya bertenun.

Pada suatu kesempatan ada seseorang pria yang tampan dan gagah yang berasal dari dolok Ulundarat di seberangnya kampung Parhutala yang bernama Guru Sodungdangon, yang kemudian menghampiri boru Saroding. Boru Saroding pun menyambut ramah pria tersebut (dimata boru Saroding pria ini begitu tampan dan gagahnya).Boru Saroding tidak mengetahui bahwa pria tersebut sebenarnya bukan dari golongan manusia, melainkan Sombaon (makhluk halus/siluman) penguasa/raja di dolok Ulundarat. Keduanya pun saling jatuh cinta dan bersepakat untuk kawin lari (mangalua). Ketika tiba saatnya, si Boru Saroding itu pun diluahon oleh Guru Sodungdangon pada malam hari. Hanya dengan menggunakan Bulung ni Sungkit (daun Sungkit) sebagai solu (perahu) mereka untuk menyebrangi danau menuju dolok Ulundarat. Sesampainya di kediaman Guru Sodungdangon mereka pun langsung merayakannya. Akan tetapi setelah tinggal beberapa lama dengan suaminya, terkejutlah si Boru Saroding melihat wujud dan rupa suaminya itu, jika disiang hari berwujud ular besar dan berkaki (naga), kemudian pada malam harinya berubah wujud menjadi pria tampan dan gagah.
Berjarak sebulan kemudian (Sombaon) penguasa dolok di Janjiraja Guru Mangiringaji juga melakukan hal yang serupa dengan si Boru Nahot. Sebulan kemudian, Sombaon penguasa di Pananggangan, Guru Saniang Naga Tunggal dengan si Boru Menakenak. Semuanya terjadi pada malam hari, sehingga tidak ada yang mengetahui.

Semasa hidupnya, Parhutala pernah berpesan kepada kedua putranya untuk membangun sebuah rumah Parsantian (rumah peninggalan turun temurun) sebagai lambang persatuan dari keturunan mereka kelak. serta mencari ito (saudara perempuan mereka) yang menghilang dari rumah. Dan semua diperkirakan mangalua dengan pemuda asing.

Raja Humirtap (diperkirakan telah menikah) baru dikaruniai seorang putri, kemudian mengajak adiknya Raja Sonang untuk merundingkan amanat ayah mereka tersebut. Mereka berdua sepakat untuk pergi ke dolok Ulundarat untuk mencari bahan kayu dan rotan sebagai keperluan pembangunan rumah Parsantian tersebut. Sesampainya mereka disana (di tengah hutan), sayub mereka mendengar suara wanita yang bernyanyi sambil menenun. Suara nyanyian tersebut sangatlah tidak asing bagi mereka. Sehingga timbullah rasa penasaran mereka untuk mendatangi sumber suara nyanyian tersebut. Setelah mereka dapati, terkejutlah mereka melihat sosok wanita yang bernyanyi itu, karena ternyata wanita itu adalah Ito mereka yang telah lama menghilang (si Boru Saroding).

Boru saroding kemudian mengajak Raja Humirtap dan Raja Sonang ke tempat kediamannyauntuk mengobrol dan saling melepas rindu. Selang waktu mereka mengobrol maka tak lama kemudian datanglah Guru Sodungdangon pulang dari perburuannya di hari itu. Si Boru Saroding segera menyembunyikan kedua ito nya tersebut, khawatir akan menjadi mangsa suami nya. Sesampai nya di tempat kediaman nya Guru Sodungdangon seperti mencium ada manusia-manusia lain berada ditempatnya dan bertanya kepada sang istri "Apakah ada tamu yang mengunjungi kediaman kita?". Si Boru Saroding tidak dapat mendustai suami nya tersebut, sehingga dia menjawab "Ya,  ada dua ito ku yang berkunjung  ." Tidak di sangka-sangka Guru Sodungdangon menyatakan ingin menemui dan bersenda gurau dengan para lae nya itu (hula-hula), karena sampai saat mereka menikah Guru Sodungdangon belum pernah sekalipunberbincang-bincang dengan hula-hula nya. Dalam pertemuan tersebut Guru Sodungdangon mempertanyakan perihal sehubungan kedatangan mereka ke dolok Ulundarat. Kemudian mereka berdua menjelaskan tujuan mereka untuk mencari bahan-bahan kayu dan perabotannya untuk mendirikan rumah parsantian yang merupakan amanat  langsung dari Ayah mereka sebelum meninggal dunia, serta juga untuk meminta sinamot (mahar kawin) atas pernikahan Guru Sodungdangon dengan ito mereka (Boru Saroding).

Mendengar  hal yang disampaikan tersebut, Guru Sodungdangon menyatakan kesediaannya untuk membayar sinamot serta membantu menyediakan bahan-bahan kayu tersebut. Kemudian Guru Sodungdangon beranjak ke luar guna mempersiapkan keperluan yang akan di bawa oleh mereka. Tidak lama kemudian Guru Sodungdangon kembali dengan membawa :
1. dua buah hajut (kantong dari pandan) yang isi nya tidak diberitahukan;
2. dua buah tabung bambu yang berisi bulu ternak;
3. dua potongan kayu yang panjang nya satu jengkal jari;
4. dua potongan rotan yang panjang nya satu jengkal jari.
Kesemuanya ini masing-masing diberikan satu kepada mereka dan berpesan agar :
1. isi yang di dalam hajut jangan di lihat sebelum tujuh hari tujuh malam;
2. tabung bambu agar diguncang-guncang dan isi nya dikeluarkan sesampainya mereka tepi danau kediaman mereka;
3. potongan kayu agar langsung dilemparkan di halaman rumah mereka masing-masing;
4. potongan rotan juga sama dengan pesan no.3;
5. jangan menoleh ke belakang !!! Dalam perjalanan pulang.
Setelah itu bergegas pamit lah Raja Humirtap dan Raja Sonang.

Dalam praktek nya Raja Sonang lah yang menjalankan pesan dari lae nya (Guru Sodungdangon). Berbeda dengan Raja humirtap, tidak satupun pesan yang dijalankannya. Dan setelah itu mereka mendirikan rumah parsantian tersebut.

Setelah peristiwa-peristiwa yang dialami oleh mereka berdua semenjak dari dolok Ulundarat sampai pesan yang harus dijalani pemberian Guru Sodungdangon maka semakin kaya raya lah Raja Sonang. Sementara Raja Humirtap tidak mendapatkan apapun juga dari pemberian lae nya tersebut. Karena hal itu maka Raja Humirtap menemui Raja Sonang untuk meminta sebagian hewan ternak dan kepingan emas yang dia dapatkan dari hajut pemberian itu. Raja Sonang tidak mau serta mengatakan bahwa mereka  berdua telah diberikan masing-masing oleh Guru Sodungdangon. Pada akhir nya mereka berdua pun saling berselisih.

Dengan hati yang penuh amarah pernah suatu hari Raja Humirtap merencanakan ingin membunuh adiknya itu, hal ini dibocorkan oleh putrinya sendiri ke amangudanya (adik dari ayahnya) mendengar hal ini Raja Sonang sangat kagum dan terharu, sehingga dia berjanji jika kamu mempunyai permasalahan kelak datanglah ke amang uda. Demikian pula sebaliknya dengan putri Raja Sonang setelah mendengar perselisihan antara ayah dengan amangtuanya serta rencana pembunuhan tersebut dari kakaknya segera menemui amangtuanya tersebut untuk mendamaikan segala pertikaian yang terjadi pada waktu itu. Raja Humirtap pun sangat kagum dan terharu dengan putri adiknya ini sehingga berjanji kepadanya agar jika mempunyai permasalahan kelak datanglah ke amangtua. Setelah itu bergegaslah Raja Humirtap menuju kediaman Raja Sonang untuk membunuh nya, tetapi Raja Sonang sudah tidak berada di tempat,  sayup dia mendengar suara di kejauhan "Aku si Raja Sonang dan seluruh keturunanku kelak tidak akan pernah bersatu lagi kecuali putri-putri kita yang berani menyatakan kejujuran dan ingin selalu membuat kita berdamai...ingat itu raja Humirtap!!!" Saat menyatakan sumpah nya tersebut Raja Sonang duduk diatas kerbau kesayangannya meninggalkan kampung halaman orangtuanya.

Perkiraan si Boru Saroding akan melahirkan anak dengan bentuk yang normal ternyata meleset. Anaknya yang lahir berbentuk ular dan berkaki, hal ini membuat dia sangat kecewa sekali. lalu pergi meninggalkan Guru Sodungdangon. Ketika dalam perjalanannya menyeberangi danau menuju tempat orangtuanya (Palipi), si Boru Saroding tenggelam. Tempat tenggelamya itu sampai sekarang menjadi tempat keramat di daerah itu. 


1a.1b Parhutala
1b.1 Raja Humirtap...(menggunakan marga Pandiangan sampai sekarang)
1b.2 Raja Sonang br Sitindaon@
1b.3 Boru Saroding
1b.4 Boru Menakenak
1b.5 Boru Nahot

2.1 Raja Gultom...? (I)@
2.2 Raja Samosir (salah satu dari keturunannya menggunakan
marga Harianja)
2.3 Raja Pakpahan
2.4 Raja Sitinjak

Raja Gultom
1. GULTOM HUTATORUAN atau TUJUAN LAUT, anak tertua, manjae ke pinggir danau yang namanya Sukkean dekat Onan Runggu itulah sebabnya Gultom Hutatoruan dimana disebut Gultom Tujuan Laut karena mereka berdomisili di tepi danau Toba.

2. GULTOM HUTAPEA, anak kedua, menetap di Gonting yang artinya bukit dan memang kampung ini tertelak di perbukitan namun ada airnya makanya disebut huta pea. Pea artinya adalah air.


3. GULTOM HUTABAGOT, anak ketiga dari Toga Gultom. Bagot artinya pohon nira/tuak.


4. GULTOM HUTABALIAN adalah anak bungsu dari empat bersaudara, balian artinya ladang. Mereka berdomisili disekitar teritorial Gultom. Di atas dolok yang berbatasan dengan Sibual-bual marga Sitindaon
.

Pernah terjadi perselisihan di marga Gultom mengenai hal berapa sebenar nya keturunan dari Ompu ini. Pada suatu masa tertentu kemungkinan sebelum tahun 1980an, umumnya marga Gultom  yang bukan dari keturunan ompu Huta Balian banyak yang menuliskan silsilahnya Ompu Toga Gultom hanya mempunyai 3 putra (HutaToruan, Hutapea, HutaBagot), tanpa menyertakan Huta Balian. Hal ini pernah Saya selidiki dengan menanyakan (wawancara) lansung keberbagai pihak terkait. Dari penyelidikan ini ditemukan kesalahpahaman. Ketiga putra terdahulu  pernah tidak mengakui bahwa Huta Balian adalah adik mereka. Perselisihan ini terus berlanjut smpai +/- 4-5 abad lama nya (dengan taksiran masa hidup Ompu Toga Gultom sekitar tahun 1400 masehi), yang membuat kasus ini semakin membingungkan dikarenakan tidak adanya turi-turian resmi   yang menyatakan bahwa Ompu Toga Gultom pernah menikah dua kali, atau pernah mangain (mengadopsi) anak. Untuk menghadapi permasalahan seperti ini sangatlah diperlukan suatu kebijaksanaan dan pemikiran serta persaudaraan yang kuat. Katakanlah pernah Ompu ini menikah duakali dan dipernikahan yang terakhir banyak pihak-pihak terkait di zaman itu tidak menyetujui sehingga menimbulkan sakit hati, tetapi karena sudah terjadi...? haruskah buah dari pernikahan yang kedua turut juga di benci dan di musuhi ? dalam hal ini Ompu Huta Balian, kalau lah memang pernah Ompu ini mangain bukankah berarti sang anak yang diadopsi tersebut  serta merta menjadi anaknya juga secara ikatan bathin. Peristiwa-peristiwa  masa lalu ini adalah hal yang wajar dan di tambah karena tidak adanya turi-turian yang menjelaskan akan hal kejadian, sehingga sungguh tidak beralasan untuk memusuhi, menjauhi juga untuk tidak menyertakan    keturunan (Ompu Huta Balian) dalam hal paradaton (prosesi setiap adat).
Berikut ini Saya ingin menyalin kembali sebuah dokumen sejarah yang masih tersimpan  di tahun 1978 berkaitan dengan  "Persatuan Toga Gultom" dalam upaya perdamaian perselisihan ini :

THEMA KESATUAN DIDALAM PERSATUAN GULTOM & BORUNA SE-INDONESIA
DISEBUT DALIHAN NATOLU

1. SOMBA TU HULA-HULA  
2. MANAT MARDONGAN TUBU  
3. ELEK TU PARBORUON      
Filsafat/Berbentuk umpasa/umpama dari nenek- moyang dahulu kala.
Untuk mendukung pepatah yang tiga bahagian tersebut di atas adalah sebagai berikut:
1. Bintang na rumiris, tu ombun sumorop. Anak pe sai riris dohot boru pe sai torop.
2. Tubu hariara di holangholang ni huta. Tubu anak na marsangap dohot boru na martua.

4. NA OLO MANGIHUT JALA OLO PANGIHUTAN
KETERANGAN-KETERANGAN  

1.1 Bintang. Molo tarbereng bintang, ndang sarupa idaon. Adong do na torop sainganan, jala digoari ma i Bintang SipariamaAdong do na torop jala songon na marihur. Digoari ma i Bintang Sialasungsang. Adong do na marsinondang apala tiur sahali. I ma digoari Bintang Sihapu-hapu. Adong do na marodorodor huhut torang sondangna. I ma digoari Bintang Sidongdong. Jala adong do muse bintang  i na midopidop huhut punjung songon na asing sian donganna. Alai sasude bintang i masiboan rumangna alai ndang masilatean, ndang masi hosoman. Ndang didok natorop i : Tadabu ma bintang na midopidop  i, suang songon i bintang na tiur i ndang didok : Taonjarhon ma i tu toru (tadabu). Sasude bintang i masiboan kewajibanna be. Naeng songon i do bangso i na nimaksud ni umpama /umpasa ni natuatua.

1.2 Ombun. Molo ombun i parmulaan ni aek (mual/tapian). Mual/aek/tapian. I ma na mambahen hangoluan ni manisia dohot hangoluan ni sasude dohot angka bintang, suang songon i nang hangoluan ni suansuanan. Suang songon i do na nimaksud ni hata ni umpama i tu sude manisia. Molo adong mual, manang beha pe hagagalak ni api boi do mate i. Maksudna : manang beha pe hagagalak ni parbadaan boi mintop bahenon ni mual, i ma sian Dame dohot sian Hata ni Debata Tuhanta i na tumompa Manisia hita jolma. 

2.1 Hariara. molo tabereng hariara, adong tolu bagian siberengonta di hariara. Parjolo : Molo dung disuan hariara, pintor lomak do bulungna idaon, jala lomo do roha hundul di bonana, alai boi parlinggoman bulungna tung ro pe ari. Paduahon : Molo dung balga hariara i, pintor sai dipataridahon do uratna tu ginjang. Sai lomo do roha ni halak sude hundul di uratna i huhut mangkatai na denggan. Jala digoari do i Partungkoan, ala sai tusi do Parpunguan ni angka Raja laho marhata. Patoluhon : Molo marparbue hariara i, marias ni roha do nang angka pidong. Ala adong di hariara i sipanganonna, marpungu ma saluhut tu hariara i. Maksudna : Molo songon i nang bangso i denggan pangalahon dohot pambahenanna tu donganna diida halak, lomo do roha ni halak mardomu tu sibahen na denggan i. Boi ma terpimpin nang ngoluna dihilala disi, gabe adong ma las ni rohana tongtong.
2.2 Mangihut, jala pangihutan. Hata mangihut boi ma jaloon ni roha mangihuthon na denggan dohot mangihuthon na maju tu na denggan. Huhut mangihuthon jaman, ndang boi mangalo jaman. Jadi jaman i do manontuhon siihuthononhon. Molo hita nunga lobi 350 taon mangihuthon Tona ni angka ompunta sian jaman na jolo. Hape molo piningkirpingkiran songon na so adong do pola kemajuan na boi mambahen las roha. Ala ni i, asa boi hita saonari gabe pangihutan, naeng ma songon na nimaksud ni Umpama na di ginjang i, huhut mangihuthon jaman, i ma jaman saonari. Jaman saonari i ma Generasi Baru, Orde Baru, Pembangunan Baru, Kesatuan Baru.

PODA SIAN NATUATUA NAJOLO

1. Na so jadi aritonmu bolonmu
2. Na so jadi tiptiponmu ganjangmu
3. Na so jadi hurhaonmu manuk ni halak manuduhi jomur mu
4. Na so jadi paluaonmu anak ni babi, pamasukhon anak ni aili
Hatoranganna songon na di toru on ma
1.1 Mangarit bolon i ma mangorui bilanganna
1.2 Paeteketekhon donganna dohot paoruoruhon derajat ni donganna (menghina donganna)
2.1 Manitip ganjangna, i ma na mangalatei donganna, asa unang maju. Goarna i ma late.
3.1 Mangkurha manuk ni halak, i ma na sai olo manjou halak na asing laho mangantoi na di ibana molo adong paraloan, na so jumolo paboahon tu donganna samarga (dongan tubu)
4.1 Paluahon anak ni babi, pamasuk anak ni aili, i ma na mamboan politik tu donganna.
Jadi boi ma dapot songon na di toru on.
1. Sitingkos ni ari
2. Sijujur ni ningor
3. Ninggala sibola tali
4. Hatian si b. timbangan (mungkin maksudnya Parhatian so ra monggal)
Jala  dapot ma dibenarkan songon Hata ni Debata, tarsurat di Bibel. Mateus 5:5-9. Rom 12 :15-21 dohot di Yesaya 57:15. I ma kesimpulanna jala sian Debata do i.
Inilah yang dihubungkan dari filsafat Nenek Moyang untuk Kesatuan Gultom & Boruna.
Oleh Ketua Umum Pdt. Ev. M Ama ni Ester Gultom.
Dan menyerukan : Selamat ! Berkesatuan Gultom & Boruna. Seluruh Indonesia. Horas ! Amen !
Kesatuan didalam PERSATUAN GULTOM dan BORUNA yang saya muliakan. Bapak-bapak dan Boru yang saya hormati : Gultom dan Boruna. Sidang / Hadirin yang saya sayangi. Marilah kita sebentar merenungkan dan memperhatikan permulaan (tumbuhnya) Kesatuan ini. 

1. Memang sudah lebih satu tahun yang lalu sudah ada "gerakan" untuk Kesatuan Gultom dan Boruna kepada saya sendiri. Dan gerakan ini sudah pernah saya perbincangkan kepada kawan Gultom, diwaktu berbincang-bincang diantara Gultom dan Boruna dimana-mana tempat, tetapi satu orangpun diantara kawan (dongan tubu), yang mendengar saran-saran dari saya untuk kesatuan Gultom dan Boruna, tidak ada yang menyetujui malahan membantah sebab mereka yang mendengar itu rupanya tetap diselimuti pesan (tona) dari orang tua dahulu kala. 

2. Tetapi pada tanggal 2 Januari 1978 kembali saya digerakkan oleh Rohul kudus untuk mengkonsep Filsafat Nenek Moyang Batak dalam bentuk Umpasa/Umpama :
1.Bintang na rumiris tu ombun na sumorop, Anak pe sai riris dohot boru pe sai torop.
2.Tubu hariara di holangkolang ni huta, Tubu anak na marsangap dohot boru na martua, Na olo mangihut jala na olo pangihutan...
Saya renungkan pengertian umpasa-umpasa tersebut. Dan digerakkan menghubungkan kedalam Firman Tuhan yang tercantum didalam Alkitab (Bibel) : Mateus 5:5-9, Roma 12:15-21 dan Yesaya 57:15. Tahap demi tahap selama 10 hari saya menghubungkan Filsafat Nenek Moyang Batak kedalam Firman Tuhan tersebut diatas, maka saya mengambil kesimpulan bahwa marga Gultom dan Boruna ada baiknya mengadakan Persatuan didalam Kesatuan.


3. Tetapi saya melihat dan memperhatikan diri saya bahwa hal ini saya tidak sanggup melaksanakannya. Maka saya berusaha untuk mencari yang lebih pintar dan yang lebih sanggup dari saya untuk melaksanakan gagasan yang sudah digerakkan Tuhan ini. Tetapi jawaban mereka yang saya jumpai itu, tidak mungkin ada persatuan didalam kesatuan diantara Gultom dan Boru yang 4 Ompu (dangka) itu. Mereka semua menjauhkan diri dari saya dan menyatakan tidak mungkin terjadi.


4. Maka sayapun mendengar saran-saran dari yang saya jumpai itu, sangat terharu dan mendiam, tetapi hati saya tidak bisa senang malahan susah memikirkan gerakan yang digerakkan Tuhan kepada saya sendiri.

5. Tetapi pada tanggal 30 Januari 1978 kembali ada gerakan dari Tuhan kepada saya , menggerakkan bahwa konsep untuk Kesatuan Gultom dan Boruna yang saya perbuat itu akan segera saya laksanakan. Maka saya tidak mengengkari lagi gerakan ini maupun sendirian saya. Hanya saya serahkan kepada Tuhan perantaraan Berdoa.

6. Pada tanggal 1 Februari 1978, saya menstencil konsep-konsep yang saya perbuat itu sebanyak 500 lembar dan seterusnya mengirimkan kepada semua Gultom dan Boruna di tiap tempat yang saya ketahui.

7. Sesudah saya kirimkan (edarkan) gagasan untuk kesatuan Gultom dan Boruna ini, saya menyusul dari belakang untuk menjumpai Gultom dan Boru yang telah menerima gagasan ini ke seluruh pelosok-pelosok dan di kota-kota yang ada di Sumatera, untuk menanyakan pendapat mereka mengenai Kesatuan Gultom dan Boruna pada generasi sekarang ini. Kebanyakan diantara mereka prihatin memikirkan bahwa hari-hari yang lalu belum pernah ada gagasan seperti ini. Maka saya memberikan penjelasan-penjelasan yang lebih mantap, maka mereka sadar dan turut mendukung gagasan saya ini. Lalu menurunkan (membubuhkan) tanda tangannya sebagai bukti persetujuannya untuk Kesatuan Gultom dan Boruna yang ada diseluruh Indonesia.

8. Mulai dari tanggal 4Februari 1978 saya tidak ada henti-hentinya menghubungi Gultom dan Boruna untuk Kesatuan tersebut, dan saya menerjunkan diri kemana saja tempat atau ke pelosok-pelosok untuk menjumpai setiap Gultom dan Boruna dari setiap Ompu, dengan tidak memperdulikan teriknya panas matahari dan lebatnya hujan dalam perjalanan. mengingat perincian dari setiap Ompu paling banyak 2 orang untuk musyawarah. dan yang paling mengerikan saya adalah seperti Pomparan ni Parhuta Punjung payah di cari, tetapi harus saya jumpai maupun di tengah-tengah hutan, sebab dari setiap Ompu harus ada untuk membentuk Kesatuan ini.

9. Jadi yang telah setuju untuk Kesatuan/Persatuan ini sudah 172 Ompu sesuai dengan daerah yangtelah saya kunjungi. dan yang 172 Ompu inisudah mengetahui obat penyakit Gultom yang tertanam dibathinnya masing-masing, yang ditanamkan nenek moyang dahulu kala itu dan inilah yang diberi keterangan seluas-luasnya. Yang saya gali dari Umpasa/Umpama juga dari nenek moyang kita sendiri dan saya hubungkan kedalam Firman Tuhanseperti tersebut diatas. Maka semua yang saya jumpai Gultom dan Boruna setelah menerima penjelasan saya tersebut., tidak ada yang engkar untuk Kesatuan Gultom dan Boruna. Dan bagi sebahagian kecil yang tidak setuju dalam Kesatuan ini adalah mereka yang tidak mau menerima hakekat dari Umpasa/Umpama dan Firman Tuhan.


10. Bahwa terbentuknya Kesatuan/Persatuan Gultom dan Boruna, bukanlah kepintaran, kekuatan, maupun kekayaan dari manusia, tetapi adalah berkat Rahmat dan Kasih dariTuhan Yang Maha Kuasa.


11. Kesimpulannya. Dalam pengertian : 
Barang siapa yang menerima Kesatuan ini adalah yang menerima Rahmat/Kasih Tuhan. Dan barang siapa yang tidak menerima (membenci), adalah membenci Rahmat/Kasih Tuhan.


Bapak-bapak dan Boru, marilah kita bersama-sama merawat dan membina Persatuan ini dan melaksanakan tugas sebaik-baiknya dalam kejujuran, kebenaran dan keadilan demi keutuhan dan kebanggaan Gultom dan Boruna pada masa mendatang.


T e r i m a       k a s i h

Pematang Siantar, 27 Mei 1978

Panitia untuk Musyawarah Besar Gultom dan Boru Se-Indonesia
Ketua Umum,


(Pdt. Ev. M. Ama ni Ester Gultom)


Berikut ini juga terdapat lampiran surat :


KEPADA YTH
KETURUNAN GULTOM DAN BORUNA 
DI MASING-MASING TEMPAT


Dengan hormat, 
             Berhubung dengan adanya Rapat terakhir tanggal 27 mei 1978 di P. Siantar dan Rapat tersebut adalah rapat Gultom Boruna yang akan menjadikan :
MUBES PUNGUAN GULTOM BORUNA SE INDONESIA

Berpusat di P. Siantar dengan maksud tujuan :

Hasadaan Gultom & boruna di bidang adat, Sosial

              Untuk itu kami pengurus sementara meminta daftar nama-nama keluarga sebagai sensus pada MUBES GULTOM BORUNA pada bulan September 1978 yang akan datang.
              Bersama terlampir daftar yang akan diisi keluarga Gultom Boruna.
              Atas kesediaan saudara-saudara kami Pengurus mengucapkan terima kasih

PUSAT PUNGUAN GULTOM BORUNA
               SE INDONESIA
Pengurus Sementara,
      Ketua Umum


(Pdt. Ev. M. Gultom)


Berikut ini guntingan dari sebuah media :

Mubes Persatuan Gultom dan Borunya
P. Siantar, (SP)
    Setelah beberapa kali diadakan pertemuan dari tokoh2 turunan marga Gultom dan borunya  atas prakarsa Pdt. Ev. M. Gultom, untuk maksud tujuan mengadakan persatuan Gultom dan Borunya se Indonesia akhirnya telah mendapat keputusan untuk mengadakan Musyawarah Besar yang akan diadakan tanggal 7 s-d 9 September yad.
    Rapat pembentukan panitia Mubes tersebut telah diadakan di gedong serba guna HKI P. Siantar dalam akhir Mei yang lalu, dimana telah tersusun panitia sbb : 
      Penasehat : Op. Rumasta Gultom, Gustafa Gultom pimpinan Serindo, Pdt. ML. Gultom, Op. Lenny Gultom, Ketua Umum I, II, III, IV : Pdt. M. Gultom, Justin Gultom, Sumarlin Gultom, J. Piter Gultom, Op. Marbun Gultom. Sekretaris Umum I, II, III, IV : A. Hotman Gultom, Drs. BA S Gultom, Agus Gultom, A. Lisfen Gultom, sedang dari boru masing2 : Op. Laski Simanjuntak, M. Simorangkir, A. Simare2 dan B. Manurung. Bendahara : Syah M. Gultom. SH, M A. Gultom, Jamalan Gultom, A P. Gultom dan dari pihak boru : Drs. T. Panjaitan, I Siahaan, Juliaman Damanik, A Ruslan Pakpahan.
       A. Simare2 sekum menjelaskan pada SP bahwa susunan panitia tersebut telah mewakili keempat rumpun Gultom. Dalam Mubes yang akan merumuskan usaha2 bidang sosial, tugu yang antik, mendirikan CV dan NV bahkan membantu pelajar2-mahasiswa persatuan Gultom seperti mendirikan asrama, pemberian beasiswa dsb. (WS)

2.1 Raja Gultom
Huta Toruan (Tujuan Laut) (II)
Hutapea (II)@
Huta Bagot (II)
Huta Balian (II)

Somorong (III)
Palang Namora br Sirait (III)@
Si Punjung (III)

Tumonggo Pulo (IV)
Namora Lontung (IV)
Namora Sende (IV)
Raja Urang Pardosi (Datu Tambun) br Sirait (IV)@

Namora Sosuharon (Tamba Tua) (V)
Baginda Raja (Lumban Dolok) (V)
Saribu Raja (Si Babiat) (V)
Patisabungan (Natumingka) br Simanjuntak (V)@

Datu Marrayar...? (VI)
Si Poya Nabegu (Si Poya Ulu Balang) br Simanjuntak (VI)@
Barita Raja...? (VI)
Op Leanon (VI)
Si Buat Narurus (Op Ni Hutana) (VI)

Op Juang (VII)
Op Rodang (VII)@
Tuan Somor (VII)

Op Paribuan (VIII)
Op Manggarang (VIII)
Op Dagar (VIII)@
Op Binjorat (VIII)
Op Sotaburon (VIII)

Op Raja Si Pulut (IX)
Op Batu Raja (IX)
Op Panaluksuk (IX)@

Op Dagar II br Pakpahan si Mora (X)@
Op Marulam (X)
Op Raja Ihat (X)

Op Leman (Ja Gea) br Sarumpaet (XI)@
Op Bolak (XI)

OpTurngak br Sormin (XII)@
Guru Marojim br Harianja (XII)

1. Op Jumaham (Ja Pandogolan) (XIII)@
1.1 br Pakpahan...
1.2 br Sitinjak...
1.3 br Panjaitan (XIII)
2. Ja Mariak...br (?) (XIII)
3. ...(?)...br Rambe (XIII)

1.1 (br Pakpahan) 
1.1.1 Op Oloan br Pakpahan dan br Siahaan (XIV)

1.2 (br Sitinjak) 
1.2.1 Op Bungaran br Sitinjak (XIV)@
1.2.2 Op Tumonggur br Pakpahan (XIV)
1.2.3 Op Janna br Harianja (XIV)
1.2.4 (br ?) Panjaitan (XIV)

1.3 (br Panjaitan) 
1.3.1 Op Pancamotan (XIV)
1.3.2 Kasibul br Minangkabau (XIV)
1.3.3 (br ?) Simanjuntak (XIV)

Op Marta br Sinaga (XV)@
Op Nur Aini br Siregar Siagian (XV)
A Newren (XV)
(br ?) Mangunsong (XV)

A Marta (Raden Bungaran) br Simanjuntak dan br Simamora (XVI)
Tuan Richie (Anwar Binsar) (XVI)@
A Mei (Mangasa Hasudungan) br Panjaitan (XVI)
(br ?) Jawa / Mangunsong (XVI)
(br ?) (XVI)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar